Beranda Ulvia

potret | rekam | kata

Kamis, 01 Juni 2017

ketakterdugaan



:DN

/1/
Kita adalah ketakterdugaan
Bahkan saat aku ingin mengurai pertemuan kita,
Tak kutemui apapun selain tanya yang menggantung di udara,
Bahkan secarik peta buram yang membawamu kemari pun tak ada.

/2/
Kita adalah dua kutub yang berlainan
Kita kerap merayakan perbedaan-perbedaan,
entah kau hanya tertawa
atau kita menjelma kepala batu yang meyakini hal-hal yang kita anggap benar;
Tetapi katamu, dari begitu banyak hal yang berbeda,
kita masih punya—setidaknya satu kesamaan kan?
Aku tersenyum saja.

/3/
Kita tak pernah selesai bercakap tentang langit,
senja, dan cuaca yang tak bisa kita terka
Percakapan kita terlalu tua
untuk malam-malam yang belum beranjak
di antara tegas matamu, aku menemukan kecemasan
Yang kausembunyikan dalam-dalam.
Tenanglah.
Kita masih punya sepasang doa—
yang semoga kelak tetap saling menjaga.

Cirebon, 01 Juni 2017

Senin, 30 Mei 2016

Satu Semester Berlalu

Sudah satu semester berlalu. Bagaimana rasanya? Beraaat sekali, awalnya.  Bukan, bukan karena si "introvert" dalam diri yang mendominasi sehingga saya tidak bisa adaptasi. Bukan pula karena anak-anak didik yang tidak bisa diajak kompromi. Lebih pada penerimaan diri terhadap apa yang Allah beri. Tapi, bagaimana pun, ini membuat saya belajar nerimo dan bermental baja. Ah, kalau diceritakan panjang.

Apapun masalahnya, setidaknyaman apapun awalnya, rasa cinta itu bisa tumbuh kapan saja selama kita belajar untuk menerima. Witing tresno jalara soko kulino itu benar ya. Saya mengalaminya. Bukan kepada lelaki yang dijodohkan dengan saya, bukan. Kepada sebuah tempat--sebut saja keluarga baru saya-, sekolah.

Saya menikmati perjalanan selepas subuh --termasuk grasa-grusu yang terjadi pagi-pagi. Saya menikmati perasaan deg-degan mengharap angkot tarikan pertama. Saya menikmati kebiasaan baru: mengamati hidup emang-emang angkot, obrolan kopi pagi, dan perihal usaha kejar setorannya. Ini akhirnya membuat saya nggak lagi mengelabui mereka dengan tidak membayar ongkos tarif anak sekolah. Hihi.

Senin, 23 Mei 2016

perihal hal-hal yang pergi dan kembali

sejak kepergianku dan kedatanganmu yang tergesa
kau yang semula menjadi jejak
dan perihal hal-hal yang pergi
seketika kembali.

inilah awal mula kau menguatkan
ikatan-ikatan yang melekatkan diri
pada puisi, baris percakapan
yang tak pernah selesai, padaku.

kau menerjang batas kesunyianku
aku diterjang gelisah di jantung rindu

setiap hari, aku menghitung kata-kata
yang terbuat dari kecemasan. bukan lagi
tentang engkau, atau hal-hal yang direlakan
aku menghitung kecemasan Tuhan
melihat kita seperti sepasang remaja
yang sedang jatuh cinta.

tiba-tiba aku ingin memintamu pergi saja
sebelum Tuhan memancangkan harapan
dengan bunyi langkah kaki yang dibuat menjauh
entah salah satu di antara kau-aku, atau keduanya.

pergilah. lalu datanglah kembali--jika kau mau
sebagai doa yang kupercaya saling menjaga
atau cinta yang jatuh di tempat yang sama.

2016
Diberdayakan oleh Blogger.

Let's be friends!

>> <<