Beranda Ulvia

potret | rekam | kata
Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Surat. Tampilkan semua postingan

Minggu, 28 Februari 2016

Perempuan Kuat dari Klaten


Namanya Annisa Nurul Fitri. Mengaku dirinya perempuan kaku dan tidak mudah berbicara dengan orang baru. Padahal sebenarnya dalam keseharian dia sering vokal dan tampil di depan. Belakangan, dia mengaku dirinya seorang introvert, sama seperti saya. Meski tuntutan peran selalu memaksanya untuk muncul di permukaan, terlihat, bersinggungan dengan banyak orang. Dan, dia menjelma seorang introvert yang tampak sebagai ekstrovert (bagi saya), saking luwesnya.

Saya mengenalnya ketika SMA. Meski tidak pernah sekelas, kita saling mengenal karena berada di lingkaran yang sama--diamanahi posisi yang sama di organisasi. Tapi hanya sebatas itu, tidak dekat. Paling banter, dia minta sountrack drama korea--kala itu saya sedang jadi kpoplovers (halah).  

Senin, 04 Mei 2015

Semacam Surat Terbuka (2)

:untuk lelaki yang (kelak) kusebut captain

Sekali lagi, aku hanya perempuan biasa, captain. Aku perempuan yang tak banyak tahu. Aku bukan perempuan cerdas yang bisa mengimbangimu diskusi banyak hal; tentang isu-isu agama, kemanusiaan, ekonomi, apalagi politik. Aku hanya perempuan dengan serba keterbatasan. Dengan keterbatasan ilmu, aku akan tetap mendengarkanmu. Mungkin aku akan lebih sering bertanya kemudian memberikan pendapat dan sanggahan seadanya. Jika kau dirundung masalah dan gelisah karena bisnis dan soal pekerjaan lainnya, aku hanya bisa memberimu ketenangan, penguatan dan pertimbangan dari nalar seorang perempuan. Semua keputusan ada di tanganmu, kau yang lebih tahu solusinya, captain.


Sampai di sini... kau sudah bisa menyimpulkan kan? Aku hanya perempuan dengan serba keterbatasan. Jika kau mengetahui ini lebih dulu, apakah kau akan tetap memilihku?

Captain, ketika kau sudah menemukan dan memilihku, aku ingin sekali bertanya. Bagaimana kau bisa mendapatkan kemantapan hati untuk memilih? Padahal aku adalah perempuan yang penuh keraguan. Aku tidak pernah mau dan bisa meyakinkanmu untuk memilihku. Bukan karena aku tidak yakin denganmu—sebab aku tidak butuh diyakinkan, kau cukup meyakinkan orangtuaku saja—aku hanya ragu pada diriku sendiri. Jika aku benar-benar yakin memilihmu dan meyakinkan kau untuk memilihku, apakah aku tidak mendahului takdir? Apakah aku tidak memaksakan kehendakku pada-Nya? Padahal, mungkin yang aku pilih adalah bukan pilihan terbaik dari-Nya. Itulah mengapa aku memutuskan untuk berdiam diri. Aku memutuskan tidak memilih siapa-siapa. Aku hanya ingin dipilih.

Aku mungkin hanya jadi salah satu pilihan di antara sederet nama perempuan yang kaupertimbangkan, atau bahkan tidak sama sekali. Aku tidak akan melakukan apa-apa untuk membuatmu memilihku. Tidak akan pernah. Biar saja orang bilang, aku tidak memperjuangkanmu. Biarlah. Sebab aku hanya akan memperjuangkan orang yang kelak memperjuangkanku saja. Biar Allah saja yang memantapkan hatimu untuk memilih. Kelak, aku akan bertanya padamu: bagaimana bisa kau memantapkan hati untuk memilih sementara aku tidak melakukan apapun untuk meyakinkanmu?

Captain, ada begitu banyak kekhawatiranku tentang esok. Kelak, bisakah kau menerima aku hari ini dan masalaluku? Sebab aku hari ini bukan berarti sama dengan aku tempo dulu. Aku pun melewati beragam cerita perjalanan. Aku takut kau menaruh ekspektasi terlalu tinggi pada masa lalu dan esok. Jangan menaruh ekspektasi terlalu tinggi padaku. Aku yang kaulihat sekarang adalah aku yang bisa terus berubah. Kelak, kau mungkin akan mendapati aku berbeda dari yang kaukenal hari ini. Kau akan melihat ada begitu banyak celah kekuranganku. Kau akan tahu bahwa aku (mungkin) tidak sebaik yang kau sangka sebelumnya. Bukankah semakin kita mengenal seseorang, kita akan tahu kekurangan-kekurangannya? Aku hanya perempuan sederhana yang dimungkinkan melakukan kesalahan. Masihkah kau mau mendampingiku? Maukah kau mengingatkanku dengan lembut?

Captain, kelak, aku tidak bisa menyembunyikan apapun darimu. Kau akan tahu bagaimana sesungguhnya aku. Bagaimana pun aku, maukah kau tetap tumbuh, memelesat, dan menua bersamaku? Kau bisa membawaku ke mana saja; ke gunung, pantai, pusat kota, bahkan lintas benua. Aku ingin mendampingimu ke mana pun. Tapi yang paling kuinginkan, bawa aku menuju surga-Nya bersamamu. 

Salam rindu,
dari (calon) perempuanmu.

Bandung, 4 Mei 2015, 21.01.

Semacam Surat Terbuka

:untuk lelaki yang (kelak) kusebut captain

Hai captain, bagaimana kabarmu?
Ketika menuliskan ini, aku masih belum tahu apakah sebelumnya kita pernah bertukar kabar atau belum. Yang pasti, aku harap, dimana pun kamu, selalu dalam keadaan baik dan dalam naungan cinta-Nya.

Aku (tidak) sengaja menuliskan surat ini untukmu. Aku tidak sedang rindu. Tidak. Akhir-akhir ini aku sering bercakap dengan diri sendiri. Dan surat ini adalah janin yang muncul dari rahim kekhawatiran dan kegelisahan yang kurawat sendirian.

Captain, kelak, aku ingin sekali melontarkan beberapa pertanyaan yang selalu berputar-putar dalam otakku. Mengapa kau memilihku? Tentu banyak perempuan yang hadir dalam hidupmu. Kau bisa memilih perempuan salehah yang elok paras, tutur kata, dan budinya. Perempuan ayu yang terjaga dari lelaki, yang keibuan, dan bisa melakukan banyak hal yang biasa ibu lakukan; Atau perempuan cerdas yang hari-harinya dilalui dengan penuh prestasi dan sederet hal mengagumkan.

Aku hanya perempuan biasa, tidak cantik dan seramah perempuan kebanyakan. Aku juga bukan perempuan salehah itu. Aku hanya perempuan yang sedang berusaha menjadi salehah. Ada banyak perempuan salehah yang alim dan bisa kaupilih untuk mendampingimu. Perempuan yang paham ilmu-ilmu agama dan tercermin dalam dirinya kerendahan hati, juga keteguhan jiwa. Perempuan yang kelak bisa mengenalkan anak-anak kepada Allah melalui teladan, yang mampu berkisah tentang para nabi. Melalui kedalaman ilmunya, ia bisa menjadi sekolah pertama yang baik bagi anak-anakmu kelak. Bukan perempuan seperti aku yang masih terus belajar mengenal Allah dan semesta-Nya. Aku masih harus membuka buku untuk mendapati simpulan kisah para nabi. Aku masih harus membiasakan diri disiplin melakukan hal yang Ia sukai. Aku masih jauh dari kata salehah.

Aku pun bukan perempuan yang benar-benar terjaga dari lelaki. Perempuan yang bisa menjaga pandangannya, yang tidak berani menatap lawan jenis, yang malu-malu ketika bicara dengan lelaki. Aku bukan perempuan seperti itu. Aku masih bisa akrab dengan lelaki. Masih suka bercanda dan kadang terbawa gaya tuturan mereka. Aku masih suka membaur dan tidak benar-benar menghindari pergaulan dengan mereka, meski aku pun punya batasan tertentu. Aku bisa membina hubungan baik dengan mereka, tapi mereka tidak bisa mendekatiku lebih dari batas kewajaran. Aku selalu menarik diri untuk bergantung kepada lelaki. Aku selalu mengusahakan diri untuk tidak banyak bergantung kepada mereka. Dan hal-hal yang bisa kubagi dengan percaya hanyalah hal-hal yang wajar adanya. Meski entah, batas kewajaranku dan kewajaranmu adakah sama?

Captain, aku bukan perempuan keibuan yang bisa melakukan banyak hal yang biasa ibu kerjakan. Kadang, aku masih kekanakan. Teman-temanku bilang, tingkahku masih seperti anak kecil. Aku juga tidak mahir menjahit, apalagi menyulam. Aku hanya bisa menjahit sobekan-sobekan kecil di bajumu. Tidak bisa membuatkanmu baju atau syal hangat, meski ingin. Kemudian, aku tidak pandai memasak. Aku tidak bisa membuatkanmu makanan ala chef di televisi, atau dessert yang menggugah selera. Aku hanya bisa membuat hidangan seadanya untuk sarapan dan makan malam kita, pun camilan rumahan yang sederhana—itu pun aku harus membuka catatan resep yang tercecer entah dimana.

Dan lagi, aku bukan perempuan yang punya banyak prestasi dan keistimewaan. Perempuan yang hari-harinya diisi dengan hal yang penuh kebermanfaatan, prestasi gemilang, dan sederet capaian mengagumkan. Captain, aku hanya perempuan sederhana yang cenderung lurus menjalani hari-hari. Biasa saja. Aku bukan perempuan sekaliber aktivis yang punya banyak agenda sosial. Waktuku tidak padat diisi dengan semua-hal-untuk-orang-lain. Aku masih suka main dengan teman-teman, jalan-jalan, mengunjungi tempat-tempat menyenangkan. Capaianku biasa-biasa saja. Aku tidak punya banyak prestasi membanggakan. Oleh karena itu, aku tidak banyak dikenal orang. Aku bahkan tidak bisa (terlalu) muncul di depan. Aku cenderung suka melakukan hal-hal di belakang layar. Maka bagaimana bisa seorang aku ini mendampingimu?

Bandung, 4 Mei 2015, 16.31.
Diberdayakan oleh Blogger.

Let's be friends!

>> <<