Beranda Ulvia

potret | rekam | kata

Jumat, 27 Juli 2012

Alih Wahana Cerpen Patung Karya Seno Gumira Adjidarma

Cerpen "Patung" karya Seno Gumira Adjidarma pada hakikatnya memiliki cerita yang manis. Tentang kesetiaan seseorang kepada yang dicintainya. Meski akhirnya malah terlihat bodoh dan terlalu lemah sehingga bisa-bisanya tokoh diperdaya oleh cinta. Diceritakan tokoh utama laki-laki dengan setia menunggu kekasihnya selama 200 tahun. Ia berharap kekasihnya akan datang padanya sambil menenteng kepala iblis--seperti janjinya dulu. Setelah sekian lama, matanya selalu tertuju pada ujung senja, berharap akan ada siluet gadisnya yang berlari menghampiri, nyatanya yang ia dapat hanya kekosongan. Di ujung senja tak ada siluet kekasihnya, yang ada, desa kecilnya kian berkembang, jauh meninggalkan dirinya yang masih saja terpaku pada bayang-bayang dan janji semu.

Begitu banyak orang lalu-lalang dan mengutuki kebodohannya dulu, mungkin orang-orang hanya tahu ia sudah menjadi patung, sudah tak merasa apa-apa. Padahal hatinya masih remuk dan terhempas begitu saja mendengar rutukan mereka. Kepercayaannya akan janji kekasihnya membuat ia bertahan. Menunggu dan terus menunggu. Hanya untuk kekasihnya. Walaupun cela dan cacian yang ia terima sudah kian menggunung. Mungkin cinta menguatkannya. Entah cinta atau bodoh, itu beda tipis.

Setelah dialihwahanakan menjadi drama, yang menonjol adalah monolog. Memang fokus cerita ini terdapat pada si patung, maka terlihat cenderung monoton dan jalan di tempat. Alur cerita yang tergambar banyak pengulangan di sana-sini, karena memang dalam cerpen konflik utamanya sesederhana itu.

0 tanggapan:

Posting Komentar

sila berkomentar :)

Diberdayakan oleh Blogger.

Let's be friends!

>> <<