Kau selalu datang tanpa alasan yang benar. Jauh sebelum kau datang dan mengajakku berbincang... aku pernah membayangkan, akankah kau datang setelah semua alasan telah habis? Setelah tak ada lagi hal-hal yang dianggap perlu untuk didiskusikan. Ternyata kau datang, seperti sebelum-sebelumnya. Membawa kembali pertanyaan-pertanyaan yang memenuhi pikiran. Alasan kebertahanan yang selama ini kupegang seolah terabaikan. Sampai suatu ketika..., aku mendapati diriku hilang terbawa arus perasaan yang terbangun tanpa sadar, berulang kali.
Sepagi ini, kau mengajakku ke sebuah tempat. Membawaku ke sebuah ruang yang dipenuhi pajangan lukisan, dilengkapi puisi pendek di setiap lukisannya. Kau biarkan aku melihat-lihat lukisan tanpa memberikan penjelasan apa-apa. Sementara puisi tak bisa kumaknai dengan sempurna. Namun aku seperti menemukan kejujuran di sana. Kejujuran yang harus kuterka sendiri, karena penjelasanmu pun tetap tak dapat kumengerti. Tetapi aku sudah cukup bahagia. Tanpa butuh alasan apa-apa.
"Kau sudah menemukan sesuatu?" tanyamu dengan simpul senyuman.
"Apa yang bisa aku temukan di sini?"
"Seluruh ruangan ini adalah penjelasannya."
"Aku sama sekali nggak menemukan apa yang aku cari di sini."
Setelah itu, kau kembali mengajakku ke tempat lain. Kali ini, aku tahu tempat itu. Di sini, kau tidak mempunyai kuasa apa-apa. Kau memintaku menunjukkan jalan. Ada yang sedang kaucari, katamu. Seperti halnya aku yang sedang berusaha menemukan kejujuran pada kata-katamu.
Perlahan-lahan, aku terpaku melihat ruangan yang sangat kukenal. Sebuah ruangan yang tak ingin kubiarkan orang masuk sesukanya. Namun kau berhasil menggeser knop pintunya. Entah kau menemukan kuncinya dimana, tapi seingatku, kunci itu telah kusimpan di tempat paling aman.
Perlahan-lahan, aku terpaku melihat ruangan yang sangat kukenal. Sebuah ruangan yang tak ingin kubiarkan orang masuk sesukanya. Namun kau berhasil menggeser knop pintunya. Entah kau menemukan kuncinya dimana, tapi seingatku, kunci itu telah kusimpan di tempat paling aman.






