Beranda Ulvia

potret | rekam | kata
Tampilkan postingan dengan label Flash fiction. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Flash fiction. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Januari 2016

Terbaik

Sebelumnya, ada banyak kekhawatiran akan masa depan. Tentang hari ini dan keputusan-keputusan yang melingkupi setiap hari. Kelak, kau akan tahu, betapa aku adalah perempuan peragudalam hal membuat keputusan atas pilihan-pilihan. Ada banyak hal yang aku pertimbangkan sampai aku pun pusing oleh kerumitan-kerumitan yang kubuat sendiri. 

Hari ini, setelah kulepaskan segala kurungan keinginan dalam diri, kakiku makin kuat berdiri. Langkahku semakin ringan. Aku seperti dibimbing Tuhan menuju masa depan yang kujalani atas pilihan yang kuputuskan. Aku mengingat bagaimana Tuhan menempaku dengan keputusan merelakan. Bagaimana aku menata diri agar tidak menyesal dengan keputusan yang telah kubuat dengan sadar. Bagaimana aku mengikhlaskan hati agar tak menamai keputusan yang kubuat adalah salah mengambil keputusan. Bagaimana aku mengolah perasaan atas hati yang kecewa karena luput membaca pertanda-Nya.

Kamis, 17 Desember 2015

Kau Tak Pernah Tahu

 Ada perempuan yang semula tak mudah jatuh, namun kemudian memendam perasaan paling dalam ketika terjatuh dan terluka. Kepadamu. Kau -bahkan dirinya sendiri- tak pernah tahu seberapa dalam ia jatuh pada perasaannya. Seberapa sering ia jatuh-bangun berkali-kali sembunyi, padamu. 

Kau tak pernah tahu, seberapa lama ia bertahan pada perasaannya sendiri. Meskipun ia tak pernah merasa kaugenggam, ia tetap bertahan menunggu waktumu sampai. Meskipun kau tak pernah memintanya menunggu, ia masih berdiri di sana, menunggu dengan penuh kesediaan dan keyakinan.
Ada yang selalu menjaga namamu dalam kepal doanya setiap hari. Meminta pada Tuhan supaya engkau dijaga-Nya. Kemudian bersungguh-sungguh berdoa pada Tuhan supaya dibersamakan dengan engkau dalam keridaan. Agar kelak ia tak mengecewakan seseorang atas perasaan yang belum diizinkan tumbuh. Kau tak pernah tahu ada yang jatuh sejatuh-jatuhnya pada engkau. Dan, itu sepenuhnya salahnya.

Selasa, 20 Januari 2015

Kembali

 
"Bu, setelah ini, aku boleh pergi lagi? Aku ingin ke tempat-tempat baru itu, ingin melakukan ini-itu. Ibu tahu kan aku tidak bisa diam. Aku ingin mengabdi, ingin mengajarkan anak-anak di daerah terluar--yang bahkan aku tak pernah terpikir akan berada di sana," kataku dengan semangat menggebu.

Kau hanya tersenyum. Tampak kecut. Ucapanku memantul-mantul di udara. Semangatku tiba-tiba meragu.

"Kau boleh melakukan banyak hal yang ingin kaulakukan, selama kau mampu, kenapa tidak? Ibu tidak pernah melarang. Tapi Ibu boleh minta satu hal, nduk? Sebelum kau benar-benar lupa."

"Iya, Bu?"

"Waktumu. Ibu hanya minta itu. Tidak sepenuhnya. Sedikit saja. Sebelum waktu ibu dan bapak habis. Kau terlalu lama bermain di luar."

Kata-katamu menghempaskan kesadaranku. Ada yang tertahan, menggenang di pelupuk mata. Banyak hal berjejalan memasuki pikiran. Waktuku. Waktumu. Habis. Aku ingin sekali menyela. Aku tidak pernah suka kata-katamu yang mendahului waktu itu sendiri.

Aku memang terlalu sibuk dengan diri sendiri. Aku seolah mandiri menyusun rencana masa depan. Tak ada kompromi denganmu atau bapak. Aku tidak memperhitungkan perasaanmu sama sekali. Ingat pun tidak. Anak macam apa aku ini? Ingin mengabdi, tapi mengabdi padamu saja belum becus.

Sekarang... jika kaupinta seluruh inginku ditukar dengan bahagiamu pun, aku rela. Jangan pernah mengatakan segala ketakutan yang tak ingin kudengar. Iya, aku akan kembali. Sampai kau mengizinkan aku pergi lagi...

Selasa, 30 September 2014

Bu, Aku Ingin Cerita

Setelah ini, aku janji tidak akan cerita apa pun lagi. Aku akan mengunci rapat-rapat mulutku jika kelepasan cerita tentang ia. Seperti yang selalu kaubilang, aku harus menjauhinya. Permintaanmu ini belum bisa kupenuhi, Bu, karena aku merasa tidak pernah mendekatinya. Jadi kupikir, aku tidak perlu menjauhinya pula. Yang akan kulakukan adalah aku harus berhenti. Aku akan berhenti memandangnya dengan cara yang berbeda. Aku harus melepas kaca mata buram yang selama ini menutupi mataku.

Aku akan melihatnya sebagai lelaki pada umumnya. Supaya menimbulkan efek jera, akan kutambahkan pandangan jujurku tentangnya. Tanpa ada kecenderungan yang membuat ia terlihat sempurna. Ia, seorang lelaki biasa yang suka melakukan banyak hal, banyak lupa, dan banyak bicara. Seperti yang selalu kaubilang, kecenderungan orang yang banyak bicara akan sulit mendengarkan. Ia akan meminta untuk didengar ketimbang mendengarkan. Ia pun akan memunculkan aibnya sendiri—jika kelepasan bicara banyak hal. Begitulah ia, Bu. Belum lama mengenalnya, aku sudah melihat ia beberapa kali membuka aibnya sendiri.

Sabtu, 20 September 2014

Nduk, Ibu Punya Cerita

"Nduk, Ibu ingin cerita," katamu lembut. Wajahmu cerah sekali, tersenyum dengan kelopak mata setengah terttutup.

"Apa, Bu?" kataku santai. Ingin segera mendengarkan.

"Tapi kamu harus janji mau mendengarkan sampai selesai."

"Iya," jawabku pendek. Sudah tidak sabaran ingin segera mendengarkan.

"Ibu punya anak, perempuan, dia sekarang beranjak dewasa. Ini tahun terakhir kuliahnya. Dia pernah menceritakan tentang seorang lelaki--sekali--pada Ibu. Tapi Ibu tidak pernah setuju. Setelahnya, ia tidak pernah menceritakan apa-apa lagi."

"Terakhir kali, Ibu menyuruhnya menjauhi lelaki itu. Malam itu, dia menangis, Nduk. Dan Ibu tidak pernah mau lagi membahas lelaki itu." 

Rabu, 17 September 2014

Langit dan Balon Udara


Kau tahu apa yang paling membebaniku akhir-akhir ini? Kaulah! Bisa tidak kau pergi sebentar atau bahkan menghilang sama sekali dari kehidupanku—yang semoga menjadi baik-baik saja tanpa kau--.
 Sebab sekarang hidupku sedang tidak baik-baik saja. Aku selalu diburu keinginan bertemu, ingin bercakap walaupun sebentar, merasa nyaman dengan kesadaran bahwa kau ada di dekatku.

Hidupku menjadi serba tertekan. Berulang kali ditekan perasaan yang kujaga diam-diam. Kadang kelepasan bercerita dengan mereka-reka banyak hal. Tapi aku pun masih gemar bersusah payah menutupi semuanya. Karena pengetahuanmu akan segala hal yang kututupi bisa saja menjadi boomerang yang menyakitkan.

Minggu, 14 September 2014

Aku Pernah.

Pernah merasa bahwa kamu tidak cukup baik untuknya? Aku pernah. Kamu merasa berada dalam lingkaran yang sama dengannya. Berjalan beriringan tapi tampak berbeda tujuan. Sebab kamu tak pernah tahu arah langkah kakinya.

Akan kamu dapati suatu hari, kamu merasa belum cukup mengimbanginya. Langkah kakinya begitu cepat, sementara langkah kakimu patah-patah. Kamu berulang kali merasa kelelahan menyejajari langkahnya. Mungkin kamu memang tidak sepatutnya berada di perjalanan yang sama.

Pernah merasa sangat yakin terhadap sesuatu? Padahal nurani berulang kali memperingatkan untuk berhati-hati. Aku pernah. Pada akhirnya, kamu akan merasa terlalu lama memakai kaca mata tapal kuda.

Jumat, 08 Agustus 2014

Percayalah...


 image credit: here

"Jauhi lelaki itu, nduk," katamu lembut, tapi terdengar tegas di telingaku. 
"Kau belum tahu seluk-beluknya, keluarganya, bahkan karakter aslinya. Yang kau ketahui baru bungkusnya saja. Mana dia itu orang jauh, nduk. Jauhi dia, ayahmu takkan suka."
"Kenapa, Bu? Dia orang baik. Aku merasa sudah mengenalnya sejak lama, Bu."
"Ayahmu takkan suka. Itu sudah menjadi alasan terkuat untuk kau menjauhinya. Sudah, ibu tidak mau dengar apa-apa lagi tentangnya. Kau, tidurlah, sudah malam."

Minggu, 09 Februari 2014

Kepada Sulung: Perjalanan

Dia lelaki berhati paling lurus* yang pernah kukenal. Wajahnya meneduhkan. Matanya sayu namun bercahaya. Kebesaran jiwanya sehamparan samudera. Tutur katanya tenang, tapi menguatkan. Dia, sulungku yang kini telah bersinar.

Sering kupinta kau bercerita tentang hidup, tentang cita-cita, juga tentang seberkas rasa yang kautekan diam-diam, dibarengi iringan doa panjang. Kala itu kau hanya tersenyum lantas mengusap kepalaku pelan. Pendek-pendek kau bercerita juga. Aku sering menuntut kau untuk bercerita lebih. Tapi lagi-lagi kau hanya tertawa lebar. Kau gemar sekali membuatku penasaran.

Tanpa banyak bercerita, nyatanya kau telah mengajariku banyak hal. Diammu adalah perbuatan. Kau tempatku belajar dengan segala macam peniruan—setelah pada ibu dan ayah. Tanpa sadar semua yang kulakukan selalu terpaut dan amat bergantung padamu.

Senin, 16 September 2013

Seseorang Bercerita

Seseorang pernah bercerita bahwa ia sangat membenci dirinya sendiri. Untuk satu hal itu, ia geram sekali pada dirinya. Sampai saat ini ia masih belum bisa menguasai hatinya.

Ia ingin sekali pergi jauuuh meninggalkan apa yang mesti ditinggalkan. Bertahan dalam prasangka itu perbuatan yang sia-sia, katanya. Dan lagi, luka kecewa belum siap ia terima.

Selama ini ia bertahan karena prasangka baik pada seseorang yang sangat dihindari dan menghindarinya. Pikirnya, mungkin lebih baik selamanya saling menghindar.

Jumat, 09 Agustus 2013

Teruntuk Masa Lalu

Dulu, aku dengan mudah tak menghargaimu. Tapi kamu berujar bahwa kamu sedang diuji agar selalu belajar menghagai orang yang tak menghargaimu.

Dulu, aku menyia-nyiakanmu. Aku malah melihat pada yang lebih, padahal yang kudapat hanya sebuah entah. Aku kurang menerima dan bersyukur pada apa yang kupunya.

Jumat, 24 Mei 2013

Ujian

random googling
x: Hal apa yang kamu inginkan sekarang?
y: Menjaga hatimu.
x: Kenapa?
y: Karena aku tidak mau menjadi ujian bagimu, seperti kamu yang menjadi ujian bagiku.

Jumat, 17 Mei 2013

Lari

 via deviantart

Aku ingin berlari saja. Meninggalkan semua tanpa sisa. Meninggalkan waktu tanpa jeda. Bukan, ini bukan karena ketidaksanggupanku menerima. Aku hanya ingin menutup mata atau enyah dari musim-musim yang kian gugur ini.

Bawa aku berlari secepatnya. Biar ranggas segala yang kulepas. Aku ingin bebas!

Aku hanya ingin berlari. Meski jatuh, bangun, aku tetap harus berlari. Biar angin membawa semua inginku pada lengan takdir.


Dan, kau... mau berlari bersamaku?

Kamis, 16 Mei 2013

Cari Apa?

"Kamu mencari apa?"
"Sesuatu yang sangat akrab dan paling kuingat darimu."
"Apa?"
"Puisi."
"Oh, puisi sudah mencari jalannya sendiri."

Sabtu, 11 Mei 2013

Dua Tahun

Suatu hari nanti, kita mungkin sedang sama-sama merindu.

Dua tahun memang bukan waktu yang lama, juga bukan waktu yang singkat untuk mencatat sejarah kita masing-masing. Setidaknya dalam kurun waktu dua tahun segalanya bisa berubah. Kau selalu bilang ingin mempercepat waktu, artinya kau ingin cepat meninggalkan dan ditinggalkan. Katamu, pada akhirnya kita akan berjalan menuju hidup kita masing-masing. 

Ya, memang, pada akhirnya jarak akan menjadi penyekat. Dan segala yang sebentar ini akan menggumpal dalam pangkal kenang kita masing-masing. Sekarang mungkin kau ingin segalanya cepat berlalu, tapi bukan tidak mungkin nanti kau malah merindu. Pun juga aku.

Minggu, 31 Maret 2013

Datanglah Sebelum Pagi


Datanglah sebelum pagi, sebelum embun meneteskan bulir beningnya dalam kelopak mataku. Datanglah dengan membawa segala diam yang mesti kaujabarkan. Aku tak bisa melulu menerka-nerka, aku lelah memaknai segala yang tersembunyi. Logika bahasaku cacat mencatat setiap isyarat. 

Minggu, 24 Maret 2013

Sempat Aku

/1/
Sempat kunamai kau keabadian, tapi ternyata aku lupa bahwa ini hanya sementara. Kau, aku adalah fana. Dan tempat ini hanyalah tempat singgah. Tempatku berpeluh lelah, untuk nanti: kebahagiaan abadi.

/2/
Sempat kusebut kau dalam tiap doa, tapi lagi-lagi aku lupa bahwa doa tak bisa memaksa. Aku hanya perlu ikhlas melepas semua yang menyesaki dada, berharap Kau menerima dan mengatur skenario terbaik selanjutnya.

Kamis, 10 Januari 2013

Jatuh

image credit dhikssy via deviantart

“Tiba-tiba aku pengin nangis,” katanya tiba-tiba. Matanya menjelma mata kaca. Sebentar lagi mungkin retak dan rintik jatuh melesak.

“Nangis aja, jangan ditahan. Kalau udah tenang, kamu boleh cerita sama aku,” kataku menenangkannya.

Diberdayakan oleh Blogger.

Let's be friends!

>> <<