Beranda Ulvia

potret | rekam | kata
Tampilkan postingan dengan label (mungkin) puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label (mungkin) puisi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 01 Juni 2017

ketakterdugaan



:DN

/1/
Kita adalah ketakterdugaan
Bahkan saat aku ingin mengurai pertemuan kita,
Tak kutemui apapun selain tanya yang menggantung di udara,
Bahkan secarik peta buram yang membawamu kemari pun tak ada.

/2/
Kita adalah dua kutub yang berlainan
Kita kerap merayakan perbedaan-perbedaan,
entah kau hanya tertawa
atau kita menjelma kepala batu yang meyakini hal-hal yang kita anggap benar;
Tetapi katamu, dari begitu banyak hal yang berbeda,
kita masih punya—setidaknya satu kesamaan kan?
Aku tersenyum saja.

/3/
Kita tak pernah selesai bercakap tentang langit,
senja, dan cuaca yang tak bisa kita terka
Percakapan kita terlalu tua
untuk malam-malam yang belum beranjak
di antara tegas matamu, aku menemukan kecemasan
Yang kausembunyikan dalam-dalam.
Tenanglah.
Kita masih punya sepasang doa—
yang semoga kelak tetap saling menjaga.

Cirebon, 01 Juni 2017

Senin, 23 Mei 2016

perihal hal-hal yang pergi dan kembali

sejak kepergianku dan kedatanganmu yang tergesa
kau yang semula menjadi jejak
dan perihal hal-hal yang pergi
seketika kembali.

inilah awal mula kau menguatkan
ikatan-ikatan yang melekatkan diri
pada puisi, baris percakapan
yang tak pernah selesai, padaku.

kau menerjang batas kesunyianku
aku diterjang gelisah di jantung rindu

setiap hari, aku menghitung kata-kata
yang terbuat dari kecemasan. bukan lagi
tentang engkau, atau hal-hal yang direlakan
aku menghitung kecemasan Tuhan
melihat kita seperti sepasang remaja
yang sedang jatuh cinta.

tiba-tiba aku ingin memintamu pergi saja
sebelum Tuhan memancangkan harapan
dengan bunyi langkah kaki yang dibuat menjauh
entah salah satu di antara kau-aku, atau keduanya.

pergilah. lalu datanglah kembali--jika kau mau
sebagai doa yang kupercaya saling menjaga
atau cinta yang jatuh di tempat yang sama.

2016

Sabtu, 14 Mei 2016

Menepi

Aku ingin menepi saja
biarkan aku menepi sendiri
sebab laut masih begitu jauh
dan menunggumu adalah senja
yang patah berulang kali
di pantai sunyi rinduku.

Selamanya aku tak bisa bertahan
pada perahu berlubang di berbagai sisi
aku tak bisa menyetia penantian
pada dermaga-dermaga lainnya.

Harapan tlah lama larung
bersama kecemasan yang kuhanyutkan
pada waktu dan hening lautan malam.

Di pantai ini, hujan kembali turun
angin dan hujan menjelma orkestra kepedihan
aku pamit, menjadi hujan itu
yang kelak kan kaukenang atau dilupakan.

Cirebon, Mei 2016.

Minggu, 08 Mei 2016

Suatu Sore dan Percakapan

Aku masih mengingat percakapan sore di beranda:
kau masih menjadi anak lugu yang gemar bercerita
tentang esok dan rahasia-rahasia yang menggantung di udara
katamu kau ingin menuliskan namaku di garis tanganmu
aku tertawa saja.

Kau mengambil kertas biru, lalu merangkai perahu:
di dalamnya kautulis namaku, juga namamu
lantas kauhanyutkan ke sungai kecil di hulu waktu.

Katamu perahu kita kan sampai pada muara yang sama
dan semesta doa tlah kaulangitkan setinggi asa
aku hanya tersenyum tanpa mengamini sama sekali.

Sebuah Tempat yang Kauceritakan

/1/
Bahkan saat aku ingin mengamini puisimu
setelah beberapa purnama berlalu
tanpa rembulan jatuh di kepala--
keraguan masih menyeret langkahku memasuki rimbun asa
yang membuat siapa saja tersesat
meski tlah kutinggalkan reranting di jalan setapak.

/2/
Katamu kau akan membawaku
ke tempat rindu yang sunyi bersembunyi
aku berjalan saja menyusuri jejak-jejak tanpa nama
lalu aku diperdengarkan lagi dengan kisah yang sama
serupa dongeng musim gugur yang bertahan merelakan daun jatuh.

Kamis, 28 April 2016

Langkah Waktu

Jika kau bilang,
kau masih memiliki rindu yang gemuruh di dadamu
mungkin aku bisa dengan mudah percaya
tapi aku telanjur tak mau tahu kepada siapa rindu itu tiba.

Jika kau tanya rinduku berada dimana,
rinduku tlah lama larung ke dasar palung air mata
kau tak lagi bisa menemukannya
di permukaan ingatanku, atau ingatanmu. 

Rinduku perlahan kikis
–mengikis satu persatu resah yang dulu begitu tabah mencarimu
kini tak ada lagi berlembar puisi yang kuharap
menjadi sepasang doa yang saling menjaga*.

Rinduku menjelma debu yang kan lenyap
diterpa langkah waktu.

April, 2016.

*disa tannos

Kepada Puisi

/1/
Tenanglah, aku tidak sedang meninggalkanmu, puisi. Meski dari purnama hingga purnama selanjutnya, jemariku masih kesulitan merangkai pertemuan kata. Tapi aku masih setia. Aku tidak sedang atau hendak jatuh cinta pada prosa atau apa saja selain engkau. Kau masih menawanku dengan panah kata-kata yang kaulesatkan;

menjadi busur rindu, pijar cahaya, juga apa saja yang menjelma semesta. Meski percakapan seringkali reda dan aku masih enggan menyambangimu di tempat kau menggelar kejujuran.

/2/
Tapi berbait-bait sajakmu tak pernah tuntas kubaca. Pada buku-buku yang memuat nama-nama penyair, pada tembok yang melukiskan mural puisi, atau pada kidung senja. Kau masih menjadi doa yang senantiasa membujuk Tuhan di puncak keheningan. Katakan bagaimana seharusnya aku menulis puisi tanpa disebut penyair. Sebab penyair kerapkali mencipta kejujuran yang hanya sebagian orang terima,

bahkan enggan untuk memahaminya. Anak-anak kata selalu gagal kuasuh dan kuasah menjadi puisi cinta. Maka aku berulang kali urung menulis engkau, puisi, kata-kataku kehilangan makna. Kehilangan nama

tapi aku merindukanmu.

/3/
Aku masih menunggumu melayangkan kabar dari ruang pertemuan sampai ke entah berantah. Percayalah, tak ada yang lebih merajam ingatan selain menahan kerinduan padamu. 

April, 2016.

Selamat hari puisi, Puisi!

Kamis, 14 April 2016

Sulur Waktu

yang menjulur di sulur waktumu
kini menjelma sebuah pengembaraan tak henti
seperti saat aku mengenalmu pertama kali
kau masih setia mengeja ayat-ayat semesta
dalam jejak perjalanan usia
lalu kaugubah menjadi puisi cinta.

lautan langit yang begitu luas itu
menjadi doa yang senantiasa larung
membawa laju mimpi-mimpimu
pada puisi dan anak-anak kata
yang kaulesatkan menjadi pijaran cahaya.
 
Cirebon, April 2016.

Rabu, 30 Maret 2016

Rinduku Menjulang

langit masih sunyi
rinduku menjulang setinggi matahari
di bawah cahaya pagi
aku masih mengeja nama-Mu
yang tak pernah habis kutulis
meski dalam seluruh puisi.

Surabaya, Maret 2016.

Selasa, 29 Maret 2016

Lalu Malam

lalu malam
jadi pendaran cahaya
kedip lampu mengelilingi
sudut jalan kota
sementara bulan
purna di atas kepala

Semarang, Maret 2016.

Fragmen Ingatan

meski aku kerap kali menjauh
sengaja mengingkari hati
yang telah lama kauhidupi
tapi di dalamnya kau tetap
menerbitkan matahari.

aku mengingat bagaimana
kau selalu menjangkau
kepergianku yang tak terjangkau
bagaimana kau meraih tanganku
yang kebas tak teraih
bagaimana kau menawarkan
kemungkinan-ketidakmungkinan
yang masih mungkin.

kau selalu mengingat bagaimana
aku bersusah payah mengingat
kau selalu menghampiri aku
yang menghindari kedatanganmu
sehasta, sedepa, sejauh langkah kaki
kau tetap mendekat dengan langkah cepat.

meski kau tak pernah membutuhkan
segenggam doa untuk mengutuhkan
kau tak pernah mematahkan setiap harapan.

Surabaya, Maret 2016.

Kepadamu (2)

rindu menghampiri
dari langkah yang jauh
melewati jalan-jalan kota
dari ramai ke sepi ke sunyi
kepadamu

aku menemukan pagi yang dingin
siang yang terik hingga senja
memulangkan cerita lama

tak ada yang benar-benar
berakhir dan berawal
selain padamu

di sini rindu masih saja
mencari langkah paling jauh
untuk kembali padamu

Surabaya, Maret 2016.

Senin, 28 Maret 2016

Sebuah Pertemuan

Lalu kau kembali setelah pergi
dengan langkah yang jauh
--meninggalkanku yang lelah
mencari jalan sendiri.

Sebuah doa telah kugenggam
di tangkup tanganku. Kau hanya perlu mengamininya
--jika ingin. Meski itu berarti kita merelakan
waktu berjalan sendiri.

Tapi aku juga kau percaya
bahwa pertemuan bukan dicipta
untuk saling meninggalkan luka.

Senin, 07 Maret 2016

Pada Suatu Masa

masa kanak-kanak, menyisakan nostalgia
akan nyanyian yang berlarian di beranda;
lalu aku menemukanmu jadi anak lugu
yang jujur pada keinginan sendiri
dan tak mudah berhenti
--tapi tidak dengan kini.

masa remaja, kau menaiki tangga
yang terus menapaki pencarian akan diri
mencipta hidup sendiri
membiarkan rindu terus berkelana
pada apa dan siapa saja.

kala dewasa, kau mengurai kisah masa muda
yang menua dan pergi meninggalkan cerita
kau masih saja berjalan menyambangi kota
membikin bangunan megah dalam diri
sementara waktu tak bisa menunggumu berhenti.

2016




Kepadamu

aku mendapati rindu yang sunyi
bersemayam dalam diri
: mencarimu.

kau masih menjadi pemilik segala rasa
yang mengendarai hatiku
terbimbing kembali padamu.

ada yang tak bisa kuhindari
ada yang tak bisa kupungkiri
: kau.

aku menyerah pada segenggam keraguan
enggan menerka kemungkinan-ketidakmungkinan
sebab segala yang mungkin hanyalah menujumu
kepadamulah rindu yang kelana ini memilih setia.

2016


Rabu, 17 Februari 2016

Rindu Kita Sunyi


rindu kita masih sunyi
meski membara
seperti bola api

rindu kita adalah sunyi
yang menempuh jarak seorang diri
sesekali menjelma keraguan
dan tak menjadi apa-apa

ya, rindu kita sunyi
sebab dibiarkan meniada
tanpa kata
tanpa kota
tanpa kita.

tapi, rindu kita masih sunyi
senyap dalam doa

2016


Sabtu, 13 Februari 2016

Menambat Rindu


kemegahan langit-Mu tak dapat kudekap
keluasan semesta-Mu tak dapat kuukur
keagungan cinta-Mu tak dapat kutakar

Sabtu, 30 Januari 2016

Dua Cangkir Kopi

kita duduk berhadapan
saling bercakapan
saling bercukupan
menerka kemungkinan
ketidakmungkinan.

kautanya, kenapa tidak kupesan
coklat hangat seperti biasa?
aku enggan mencecap manis yang melenakan, kubilang.
tetapi kopi, pahitnya bisa membunuhmu perlahan
atau sekali tegukan. seperti berita kematian
yang ramai di televisi.

Risalah Kesunyian

malam mengantarkan
risalah kesunyian:
ada yang menunggumu lebih lama
—dari siapa saja. setia
menurunkan doa dari langit tertinggi
bahkan sejak kau tak menyadari.

ada yang menantimu datang
dengan pakaian kusut atau rapi
berwajah cerah atau muram
tetap menerimamu
dengan tangan lapang.

Sabtu, 23 Januari 2016

Sedingin Hujan

sepagi tadi, gerimis jatuh
menggenangi rindu yang kembali
sedingin hujan.

(langit basah tanah basah kenangan basah)

aku disergap gigil yang membekukan
kenangan. lantas kubiarkan ia mencari
embus angin kepergian.
Diberdayakan oleh Blogger.

Let's be friends!

>> <<