Mas, kenapa semesta seolah belum mengizinkan kita berbahagia sepenuhnya--bersama.. kita masih saja disibukkan dengan menduga-duga tentang esok dan cuaca yang tak bisa kita terka.
Minggu, 10 Juni 2018
Kamis, 01 Juni 2017
ketakterdugaan
:DN
/1/
Kita adalah ketakterdugaan
Bahkan saat aku ingin mengurai pertemuan kita,
Tak kutemui apapun selain tanya yang menggantung di udara,
Bahkan secarik peta buram yang membawamu kemari pun tak ada.
/2/
Kita adalah dua kutub yang berlainan
Kita kerap merayakan perbedaan-perbedaan,
entah kau hanya tertawa
atau kita menjelma kepala batu yang meyakini hal-hal yang kita anggap benar;
Tetapi katamu, dari begitu banyak hal yang berbeda,
kita masih punya—setidaknya satu kesamaan kan?
Aku tersenyum saja.
/3/
Kita tak pernah selesai bercakap tentang langit,
senja, dan cuaca yang tak bisa kita terka
Percakapan kita terlalu tua
untuk malam-malam yang belum beranjak
di antara tegas matamu, aku menemukan kecemasan
Yang kausembunyikan dalam-dalam.
Tenanglah.
Kita masih punya sepasang doa—
yang semoga kelak tetap saling menjaga.
Cirebon, 01 Juni 2017
Senin, 30 Mei 2016
Satu Semester Berlalu
Sudah satu semester berlalu. Bagaimana rasanya? Beraaat sekali, awalnya. Bukan, bukan karena si "introvert" dalam diri yang mendominasi sehingga saya tidak bisa adaptasi. Bukan pula karena anak-anak didik yang tidak bisa diajak kompromi. Lebih pada penerimaan diri terhadap apa yang Allah beri. Tapi, bagaimana pun, ini membuat saya belajar nerimo dan bermental baja. Ah, kalau diceritakan panjang.
Apapun masalahnya, setidaknyaman apapun awalnya, rasa cinta itu bisa tumbuh kapan saja selama kita belajar untuk menerima. Witing tresno jalara soko kulino itu benar ya. Saya mengalaminya. Bukan kepada lelaki yang dijodohkan dengan saya, bukan. Kepada sebuah tempat--sebut saja keluarga baru saya-, sekolah.
Saya menikmati perjalanan selepas subuh --termasuk grasa-grusu yang terjadi pagi-pagi. Saya menikmati perasaan deg-degan mengharap angkot tarikan pertama. Saya menikmati kebiasaan baru: mengamati hidup emang-emang angkot, obrolan kopi pagi, dan perihal usaha kejar setorannya. Ini akhirnya membuat saya nggak lagi mengelabui mereka dengan tidak membayar ongkos tarif anak sekolah. Hihi.
Senin, 23 Mei 2016
perihal hal-hal yang pergi dan kembali
sejak kepergianku dan kedatanganmu yang tergesa
kau yang semula menjadi jejak
dan perihal hal-hal yang pergi
seketika kembali.
inilah awal mula kau menguatkan
ikatan-ikatan yang melekatkan diri
pada puisi, baris percakapan
yang tak pernah selesai, padaku.
kau menerjang batas kesunyianku
aku diterjang gelisah di jantung rindu
setiap hari, aku menghitung kata-kata
yang terbuat dari kecemasan. bukan lagi
tentang engkau, atau hal-hal yang direlakan
aku menghitung kecemasan Tuhan
melihat kita seperti sepasang remaja
yang sedang jatuh cinta.
tiba-tiba aku ingin memintamu pergi saja
sebelum Tuhan memancangkan harapan
dengan bunyi langkah kaki yang dibuat menjauh
entah salah satu di antara kau-aku, atau keduanya.
pergilah. lalu datanglah kembali--jika kau mau
sebagai doa yang kupercaya saling menjaga
atau cinta yang jatuh di tempat yang sama.
2016
kau yang semula menjadi jejak
dan perihal hal-hal yang pergi
seketika kembali.
inilah awal mula kau menguatkan
ikatan-ikatan yang melekatkan diri
pada puisi, baris percakapan
yang tak pernah selesai, padaku.
kau menerjang batas kesunyianku
aku diterjang gelisah di jantung rindu
setiap hari, aku menghitung kata-kata
yang terbuat dari kecemasan. bukan lagi
tentang engkau, atau hal-hal yang direlakan
aku menghitung kecemasan Tuhan
melihat kita seperti sepasang remaja
yang sedang jatuh cinta.
tiba-tiba aku ingin memintamu pergi saja
sebelum Tuhan memancangkan harapan
dengan bunyi langkah kaki yang dibuat menjauh
entah salah satu di antara kau-aku, atau keduanya.
pergilah. lalu datanglah kembali--jika kau mau
sebagai doa yang kupercaya saling menjaga
atau cinta yang jatuh di tempat yang sama.
2016
Minggu, 15 Mei 2016
PUKUL 4 PAGI - AAN MANSYUR
Tidak ada yang bisa diajak berbincang.
Dari jendela kau lihat
bintang-bintang sudah lama tanggal.
Lampu-lampu kota
bagai kalimat selamat tinggal.
Kau rasakan seseorang di kejauhan
menggeliat dalam dirimu.
Kau berdoa: semoga kesedihan
memperlakukan matanya dengan baik.
Batas - Aan Mansyur
Meski saya belum menonton AADC2, tapi puisi Aan Mansyur di buku "Tidak Ada New York Hari Ini" telanjur membuat saya jatuh cinta. Ah, Cinta! Bagaimana rasanya menanti sedemikian lama?
Semua perihal diciptakan sebagai batas. Membelah sesuatu dari sesuatu yang lain. Hari ini membatasi besok dan kemarin. Besok batas hari ini dan lusa. Jalan-jalan memisahkan deretan toko dan perpustakaan kota, bilik penjara dan kantor walikota, juga rumahmu dan seluruh tempat di mana pernah ada kita.
Bandara dan udara memisahkan New York dan Jakarta. Resah di dadamu dan rahasia yang menanti di jantung puisi ini dipisah kata-kata. Begitu pula rindu, hamparan laut dalam antara pulang dan seorang petualang yang hilang. Seperti penjahat dan kebaikan dihalang uang dan undang-undang.
Seorang ayah membelah anak dari ibunya — dan sebaliknya. Atau senyummu, dinding di antara aku dan ketidakwarasan. Persis segelas kopi tanpa gula menjauhkan mimpi dari tidur.
Apa kabar hari ini? Lihat, tanda tanya itu, jurang antara kebodohan dan keinginanku memilikimu sekali lagi.
Sabtu, 14 Mei 2016
Menepi
Aku ingin menepi saja
biarkan aku menepi sendiri
sebab laut masih begitu jauh
dan menunggumu adalah senja
yang patah berulang kali
di pantai sunyi rinduku.
Selamanya aku tak bisa bertahan
pada perahu berlubang di berbagai sisi
aku tak bisa menyetia penantian
pada dermaga-dermaga lainnya.
Harapan tlah lama larung
bersama kecemasan yang kuhanyutkan
pada waktu dan hening lautan malam.
Di pantai ini, hujan kembali turun
angin dan hujan menjelma orkestra kepedihan
aku pamit, menjadi hujan itu
yang kelak kan kaukenang atau dilupakan.
Cirebon, Mei 2016.
biarkan aku menepi sendiri
sebab laut masih begitu jauh
dan menunggumu adalah senja
yang patah berulang kali
di pantai sunyi rinduku.
Selamanya aku tak bisa bertahan
pada perahu berlubang di berbagai sisi
aku tak bisa menyetia penantian
pada dermaga-dermaga lainnya.
Harapan tlah lama larung
bersama kecemasan yang kuhanyutkan
pada waktu dan hening lautan malam.
Di pantai ini, hujan kembali turun
angin dan hujan menjelma orkestra kepedihan
aku pamit, menjadi hujan itu
yang kelak kan kaukenang atau dilupakan.
Cirebon, Mei 2016.
Minggu, 08 Mei 2016
Suatu Sore dan Percakapan
Aku masih mengingat percakapan sore di beranda:
kau masih menjadi anak lugu yang gemar bercerita
tentang esok dan rahasia-rahasia yang menggantung di udara
katamu kau ingin menuliskan namaku di garis tanganmu
aku tertawa saja.
Kau mengambil kertas biru, lalu merangkai perahu:
di dalamnya kautulis namaku, juga namamu
lantas kauhanyutkan ke sungai kecil di hulu waktu.
Katamu perahu kita kan sampai pada muara yang sama
dan semesta doa tlah kaulangitkan setinggi asa
aku hanya tersenyum tanpa mengamini sama sekali.
kau masih menjadi anak lugu yang gemar bercerita
tentang esok dan rahasia-rahasia yang menggantung di udara
katamu kau ingin menuliskan namaku di garis tanganmu
aku tertawa saja.
Kau mengambil kertas biru, lalu merangkai perahu:
di dalamnya kautulis namaku, juga namamu
lantas kauhanyutkan ke sungai kecil di hulu waktu.
Katamu perahu kita kan sampai pada muara yang sama
dan semesta doa tlah kaulangitkan setinggi asa
aku hanya tersenyum tanpa mengamini sama sekali.
Sebuah Tempat yang Kauceritakan
/1/
Bahkan saat aku ingin mengamini puisimu
setelah beberapa purnama berlalu
tanpa rembulan jatuh di kepala--
keraguan masih menyeret langkahku memasuki rimbun asa
yang membuat siapa saja tersesat
meski tlah kutinggalkan reranting di jalan setapak.
/2/
Katamu kau akan membawaku
ke tempat rindu yang sunyi bersembunyi
aku berjalan saja menyusuri jejak-jejak tanpa nama
lalu aku diperdengarkan lagi dengan kisah yang sama
serupa dongeng musim gugur yang bertahan merelakan daun jatuh.
Bahkan saat aku ingin mengamini puisimu
setelah beberapa purnama berlalu
tanpa rembulan jatuh di kepala--
keraguan masih menyeret langkahku memasuki rimbun asa
yang membuat siapa saja tersesat
meski tlah kutinggalkan reranting di jalan setapak.
/2/
Katamu kau akan membawaku
ke tempat rindu yang sunyi bersembunyi
aku berjalan saja menyusuri jejak-jejak tanpa nama
lalu aku diperdengarkan lagi dengan kisah yang sama
serupa dongeng musim gugur yang bertahan merelakan daun jatuh.
Kamis, 28 April 2016
Langkah Waktu
Jika kau bilang,
kau masih memiliki rindu yang gemuruh di dadamu
mungkin aku bisa dengan mudah percaya
tapi aku telanjur tak mau tahu kepada siapa rindu itu tiba.
Jika kau tanya rinduku berada dimana,
kau masih memiliki rindu yang gemuruh di dadamu
mungkin aku bisa dengan mudah percaya
tapi aku telanjur tak mau tahu kepada siapa rindu itu tiba.
Jika kau tanya rinduku berada dimana,
rinduku tlah lama larung ke dasar palung air mata
kau tak lagi bisa menemukannya
di permukaan ingatanku, atau ingatanmu.
kau tak lagi bisa menemukannya
di permukaan ingatanku, atau ingatanmu.
Rinduku perlahan kikis
–mengikis satu persatu resah yang dulu begitu tabah mencarimu
kini tak ada lagi berlembar puisi yang kuharap
menjadi sepasang doa yang saling menjaga*.
Rinduku menjelma debu yang kan lenyap
diterpa langkah waktu.
–mengikis satu persatu resah yang dulu begitu tabah mencarimu
kini tak ada lagi berlembar puisi yang kuharap
menjadi sepasang doa yang saling menjaga*.
Rinduku menjelma debu yang kan lenyap
diterpa langkah waktu.
April, 2016.
*disa tannos
*disa tannos
Kepada Puisi
/1/
Tenanglah, aku tidak sedang meninggalkanmu, puisi. Meski dari purnama hingga purnama selanjutnya, jemariku masih kesulitan merangkai pertemuan kata. Tapi aku masih setia. Aku tidak sedang atau hendak jatuh cinta pada prosa atau apa saja selain engkau. Kau masih menawanku dengan panah kata-kata yang kaulesatkan;
menjadi busur rindu, pijar cahaya, juga apa saja yang menjelma semesta. Meski percakapan seringkali reda dan aku masih enggan menyambangimu di tempat kau menggelar kejujuran.
/2/
Tapi berbait-bait sajakmu tak pernah tuntas kubaca. Pada buku-buku yang memuat nama-nama penyair, pada tembok yang melukiskan mural puisi, atau pada kidung senja. Kau masih menjadi doa yang senantiasa membujuk Tuhan di puncak keheningan. Katakan bagaimana seharusnya aku menulis puisi tanpa disebut penyair. Sebab penyair kerapkali mencipta kejujuran yang hanya sebagian orang terima,
bahkan enggan untuk memahaminya. Anak-anak kata selalu gagal kuasuh dan kuasah menjadi puisi cinta. Maka aku berulang kali urung menulis engkau, puisi, kata-kataku kehilangan makna. Kehilangan nama
tapi aku merindukanmu.
/3/
Aku masih menunggumu melayangkan kabar dari ruang pertemuan sampai ke entah berantah. Percayalah, tak ada yang lebih merajam ingatan selain menahan kerinduan padamu.
Tenanglah, aku tidak sedang meninggalkanmu, puisi. Meski dari purnama hingga purnama selanjutnya, jemariku masih kesulitan merangkai pertemuan kata. Tapi aku masih setia. Aku tidak sedang atau hendak jatuh cinta pada prosa atau apa saja selain engkau. Kau masih menawanku dengan panah kata-kata yang kaulesatkan;
menjadi busur rindu, pijar cahaya, juga apa saja yang menjelma semesta. Meski percakapan seringkali reda dan aku masih enggan menyambangimu di tempat kau menggelar kejujuran.
/2/
Tapi berbait-bait sajakmu tak pernah tuntas kubaca. Pada buku-buku yang memuat nama-nama penyair, pada tembok yang melukiskan mural puisi, atau pada kidung senja. Kau masih menjadi doa yang senantiasa membujuk Tuhan di puncak keheningan. Katakan bagaimana seharusnya aku menulis puisi tanpa disebut penyair. Sebab penyair kerapkali mencipta kejujuran yang hanya sebagian orang terima,
bahkan enggan untuk memahaminya. Anak-anak kata selalu gagal kuasuh dan kuasah menjadi puisi cinta. Maka aku berulang kali urung menulis engkau, puisi, kata-kataku kehilangan makna. Kehilangan nama
tapi aku merindukanmu.
/3/
Aku masih menunggumu melayangkan kabar dari ruang pertemuan sampai ke entah berantah. Percayalah, tak ada yang lebih merajam ingatan selain menahan kerinduan padamu.
April, 2016.
Selamat hari puisi, Puisi!
Selamat hari puisi, Puisi!
Minggu, 24 April 2016
Kisah #3: Rindu
Seperti yang diceritakan Gendis kepadaku...
Dan, sejak pertemuan kita yang tak disengaja. Sejak saat itu, aku merasa kau berusaha menjangkauku kembali. Kau mencariku, menghubungiku--meski ragu dan tak banyak kata. Sebab sudah berbulan-bulan lamanya kita tak saling menyapa.
Aku masih perempuan yang sama. Aku membalas pesan-pesanmu sekadarnya, pendek-pendek. Tapi aku bahagia. Itu saja. Meski entah kenapa, sebetulnya aku ingin bicara padamu lebih banyak dari biasanya. Aku tidak ingin percakapan kita sependek itu, sebab kau masih punya cinta yang panjang kan? Atau mungkin sekarang tidak lagi...
Iya, aku tahu, kau sudah terlalu lama memendam. Mungkin saat ini, kau sudah melewati batas kesabaranmu menunggu. Tapi kau tahu, di ujung sabarmu itu, ada aku yang mulai melihat apa saja ketulusan yang kautinggalkan.
Jumat, 15 April 2016
Rindu
Pernah tidak merasakan rindu yang begitu gemuruh? Rasanya rindu sekali. Ingin bertemu. Ingin bercakap. Ingin bertatap. Tapi tidak tahu rindu itu milik siapa. Hanya rindu saja. Rindu yang ingin dibayar tuntas. Meski tak bisa menuntut apa-apa, sebab pemilik rindu itu pun entah siapa.
Saya rindu. Mungkin kepada kamu, hey kamu yang entah berada dimana :')
Kepada kamu, seseorang yang namanya tertulis di lauhul mahfudz.Aku merindukanmu--sangat. Rasanya ingin sekali segera menemuimu. Tapi aku tahu, masing-masing kita mesti mencari jalan sendiri, lalu saling menemukan. Dan berhenti di persimpangan waktu yang sama.Mungkin kita pernah bertemu, atau belum sama sekali. Tapi aku percaya, kita akan bertemu ketika aku siap melangkah ke hidupmu. Sekarang aku sedang bersiap dengan diriku sendiri. Kau juga kan? Selamat mempersiapkan diri, hey kamu.
Kamis, 14 April 2016
Sulur Waktu
yang menjulur di sulur waktumu
kini menjelma sebuah pengembaraan tak henti
seperti saat aku mengenalmu pertama kali
kau masih setia mengeja ayat-ayat semesta
dalam jejak perjalanan usia
lalu kaugubah menjadi puisi cinta.
lautan langit yang begitu luas itu
kini menjelma sebuah pengembaraan tak henti
seperti saat aku mengenalmu pertama kali
kau masih setia mengeja ayat-ayat semesta
dalam jejak perjalanan usia
lalu kaugubah menjadi puisi cinta.
lautan langit yang begitu luas itu
menjadi doa yang senantiasa larung
membawa laju mimpi-mimpimu
pada puisi dan anak-anak kata
yang kaulesatkan menjadi pijaran cahaya.
Cirebon, April 2016.
Rabu, 30 Maret 2016
Selasa, 29 Maret 2016
Fragmen Ingatan
meski aku kerap kali menjauh
sengaja mengingkari hati
yang telah lama kauhidupi
tapi di dalamnya kau tetap
menerbitkan matahari.
aku mengingat bagaimana
kau selalu menjangkau
kepergianku yang tak terjangkau
bagaimana kau meraih tanganku
yang kebas tak teraih
bagaimana kau menawarkan
kemungkinan-ketidakmungkinan
yang masih mungkin.
kau selalu mengingat bagaimana
aku bersusah payah mengingat
kau selalu menghampiri aku
yang menghindari kedatanganmu
sehasta, sedepa, sejauh langkah kaki
kau tetap mendekat dengan langkah cepat.
meski kau tak pernah membutuhkan
segenggam doa untuk mengutuhkan
kau tak pernah mematahkan setiap harapan.
Surabaya, Maret 2016.
sengaja mengingkari hati
yang telah lama kauhidupi
tapi di dalamnya kau tetap
menerbitkan matahari.
aku mengingat bagaimana
kau selalu menjangkau
kepergianku yang tak terjangkau
bagaimana kau meraih tanganku
yang kebas tak teraih
bagaimana kau menawarkan
kemungkinan-ketidakmungkinan
yang masih mungkin.
kau selalu mengingat bagaimana
aku bersusah payah mengingat
kau selalu menghampiri aku
yang menghindari kedatanganmu
sehasta, sedepa, sejauh langkah kaki
kau tetap mendekat dengan langkah cepat.
meski kau tak pernah membutuhkan
segenggam doa untuk mengutuhkan
kau tak pernah mematahkan setiap harapan.
Surabaya, Maret 2016.
Kepadamu (2)
rindu menghampiri
dari langkah yang jauh
melewati jalan-jalan kota
dari ramai ke sepi ke sunyi
kepadamu
aku menemukan pagi yang dingin
siang yang terik hingga senja
memulangkan cerita lama
tak ada yang benar-benar
berakhir dan berawal
selain padamu
di sini rindu masih saja
mencari langkah paling jauh
untuk kembali padamu
Surabaya, Maret 2016.
dari langkah yang jauh
melewati jalan-jalan kota
dari ramai ke sepi ke sunyi
kepadamu
aku menemukan pagi yang dingin
siang yang terik hingga senja
memulangkan cerita lama
tak ada yang benar-benar
berakhir dan berawal
selain padamu
di sini rindu masih saja
mencari langkah paling jauh
untuk kembali padamu
Surabaya, Maret 2016.
Senin, 28 Maret 2016
Sebuah Pertemuan
Lalu kau kembali setelah pergi
dengan langkah yang jauh
--meninggalkanku yang lelah
mencari jalan sendiri.
Sebuah doa telah kugenggam
di tangkup tanganku. Kau hanya perlu mengamininya
--jika ingin. Meski itu berarti kita merelakan
waktu berjalan sendiri.
Tapi aku juga kau percaya
bahwa pertemuan bukan dicipta
untuk saling meninggalkan luka.
dengan langkah yang jauh
--meninggalkanku yang lelah
mencari jalan sendiri.
Sebuah doa telah kugenggam
di tangkup tanganku. Kau hanya perlu mengamininya
--jika ingin. Meski itu berarti kita merelakan
waktu berjalan sendiri.
Tapi aku juga kau percaya
bahwa pertemuan bukan dicipta
untuk saling meninggalkan luka.
Jumat, 18 Maret 2016
23 Tahun
: untuk seseorang yang berulang tahun 16 Maret lalu.
Waktu seperti sedang berlari, meninggalkan masa kanak-kanak yang penuh keluguan. Kini berganti dengan kompleksnya kehidupan. Betapa waktu begitu cepat berlalu.
Dua puluh tiga tahun yang lalu, lahir bayi perempuan dengan selamat -setelah sebelumnya menimbulkan kekhawatiran selamat-tidaknya si jabang bayi-. Ah, mungkin saat itu semuanya begitu tegang menantikan ia, harapan baru keluarganya.
Ia dinamai Nurul Lutfia, katanya berarti cahaya yang lembut. Konon, orang tuanya mengambil nama tersebut karena Ibu dan Bapak mengagumi sosok Hj. Luthfiyah Sungkar, pendakwah perempuan yang lembut dan santun, tapi tegas. Beliau sering mengisi kultum di televisi, kala itu. Sekarang telah berpulang dan sampai senja usianya pun, ia masih berdakwah, melakukan kegiatan-kegiatan sosial. Semoga kebaikannya sepanjang hidup bisa dicatat sebagai amal yang senantiasa mengalir. Alfaatihah untuk beliau.
Sementara Nurul yang berarti cahaya... semoga kelak anak perempuan itu bisa menjadi cahaya, setidaknya bagi keluarganya. Menilik dari historis namanya, ada harapan besar yang tertanam pada anak perempuan itu. Harapan yang selalu menjadi doa dari orang tuanya, untuk ia.
Kini, anak perempuan itu sudah mencapai usia 23 tahun. Usia yang bukan lagi remaja. Ia menjelma perempuan pendiam yang banyak maunya. Ia memiliki banyak keinginan, tapi masih saja belum bisa fokus melakukan apa-apa yang ia inginkan. Lamat-lamat, ia tak lagi menyisakan banyak keinginan, selain ingin selalu merasa bahagia.
Pada hari ulang tahunnya, ia seperti ingin menjadi anak kecil -sehari saja- dulu. Ia menjadi sangat sensitif dan mudah menangis. Dasar bocil! Entah kenapa, setiap kali menerima doa-doa yang disampaikan orang-orang terdekat, airmatanya tidak terbendung. Harapan dan doa orang tua -entah kenapa- mencubit hatinya... Sebab masih banyak yang belum ia lakukan, harapan-harapan yang belum selesai dan pertanyaan-pertanyaan yang selalu dijawab dengan senyuman.
Ia mengaminkan semua doa yang sampai. Tapi harapan dan doa yang paling dia inginkan bukan lagi melulu hal-hal besar. Ia tak lagi memiliki banyak keinginan selain mendekat pada-Nya. Menjadi sebenar-benarnya muslimah yang diridai oleh-Nya. Menjaga amanah sebuah nama penuh doa yang dititipi padanya.
23 tahun sudah...
Kamu sudah melakukan apa saja?
Sudahkah kamu menjadi muslimah yang baik?
Sudahkah kamu berbuat baik kepada orang tua, kakak-adik, keluarga, sahabat, orang lain?
Sudahkah kamu melakukan hal-hal yang sepatutnya dilakukan?
Sudahkah kamu dewasa?
Sudahkah kamu siap menjadi dewasa?
Siapkah kamu meninggalkan ego anak-anakmu?
Siapkah kamu berhenti menjadi kekanakan?
Siapkah kamu menghadapi tempaan hidup yang lebih keras lagi?
Siapkah kamu keluar dari zona nyaman dan berkembang-bertumbuh menjadi lebih baik lagi?
Sudahkah kamu memperjuangkan mimpi-mimpimu?
Siapkah kamu mengisi waktumu dengan hal-hal baik? Bukan lagi kesia-siaan?
Siapkah kamu... ah! terlalu banyak pertanyaan dalam dirinya.
Baiklah, selamat ulang tahun, Uluuul.
Selamat memaknai usia.
Selamat berkontemplasi~
Selamat memaknai usia.
Selamat berkontemplasi~
19 Maret 2016